SIT Zam-Zam Barru – Selama ini ilmu agama dan ilmu umum seolah terpisah (dikotomi). Konsep Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang diusung Yayasan Zam-Zam Al-Ikhlas melahirkan TK IT Zam-Zam, SMP IT Zam-Zam, SMA IT Zam-Zam adalah sebuah upaya memadukan dikotomi tersebut.

Prof. Kamaruddin Hasan menegaskan bahwa salah satu misi pendidikan di SIT Zam-Zam adalah menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, pemisahan kedua bidang ilmu tersebut tidak sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang telah melahirkan banyak tokoh besar.

“SIT Zam-Zam berupaya menjembatani ilmu agama dan ilmu umum. Di sini tidak ada dikotomi ilmu, tetapi integrasi ilmu. Kami ingin melahirkan generasi yang kokoh dalam agama sekaligus unggul dalam sains, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.

Ia mencontohkan para cendekiawan Muslim pada masa keemasan Islam, seperti Ibnu Sina yang dikenal sebagai dokter sekaligus menguasai ilmu-ilmu keislaman, Ibnu Rusyd yang merupakan seorang faqih, hakim, filsuf, dan dokter, serta Ibnu Miskawaih yang menjadi filsuf dan pemikir besar dalam bidang etika Islam. Ketiganya menunjukkan bahwa seorang ulama dapat menjadi ilmuwan, dan seorang ilmuwan tetap berakar kuat pada nilai-nilai agama.

Melalui pendekatan tersebut, Prof. Kamaruddin berharap lulusan SIT Zam-Zam tumbuh sebagai cendekia-ulama sekaligus ulama-cendekia, generasi yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan akhlak untuk memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban.