
SIT Zam-Zam Barru – Masjid Baiturrahman H. Lawe Zam-Zam Center kembali menjadi pusat pembinaan keislaman melalui Pengajian Pekan Ketiga Bulan Juli yang berlangsung pada Rabu, 22 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para santri-santriwati Tahfiz SIT Zam-Zam jenjang SMP IT Zam-Zam dan SMA IT Zam-Zam, serta para jamaah masyarakat yang hadir untuk menimba ilmu.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Muhammad Agus, M.Th.I. menyampaikan tausiah bertema “Para Penjaga Al-Qur’an”. Dalam pemaparannya, beliau mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa menjaga Al-Qur’an bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, melainkan amanah yang Allah percayakan kepada banyak hamba-Nya.
Beliau menjelaskan firman Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 9:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
Menurut beliau, Allah menggunakan kata “Kami” dalam ayat tersebut, bukan kata “Aku”, sebagai isyarat bahwa Allah menjaga kemurnian Al-Qur’an melalui berbagai sebab dan perantara yang dikehendaki-Nya. Salah satu bentuk penjagaan itu adalah hadirnya para penghafal Al-Qur’an di setiap generasi, termasuk para santri Tahfiz di SIT Zam-Zam yang senantiasa menghafal, mempelajari, dan menghidupkan Al-Qur’an dalam keseharian mereka.
Lebih lanjut, Prof. Muhammad Agus menegaskan bahwa menjadi penjaga Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan menghafalkannya. Seorang penjaga Al-Qur’an sejati harus menjaga kitab suci tersebut melalui tiga tahapan utama, yaitu ḥifẓan (حِفْظًا) atau menjaga Al-Qur’an dengan hafalan dan lafaz yang benar, fahman (فَهْمًا) yaitu menjaga Al-Qur’an dengan memahami makna, kandungan, dan tafsir ayat-ayatnya, serta ‘amalan (عَمَلًا) yakni menjaga Al-Qur’an dengan mengamalkan setiap ajaran yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menekankan bahwa hafalan yang kuat harus diiringi dengan pemahaman yang benar, sehingga setiap ayat mampu dihayati dan menjadi pedoman hidup. Puncak dari seluruh proses tersebut adalah mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam akhlak, ibadah, serta hubungan dengan sesama manusia. Dengan demikian, seorang hafiz tidak hanya dikenal karena banyaknya hafalan, tetapi juga karena kemuliaan akhlak yang lahir dari Al-Qur’an yang hidup dalam dirinya.
Pengajian berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Para santri tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan, sementara para jamaah turut mengikuti kajian hingga selesai. Melalui kegiatan rutin ini, SIT Zam-Zam terus berkomitmen membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam dan mampu mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan (adm).



